KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي بَلَّغَنَا
مَشَارِفَ شَهْرِ رَمَضَانَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا
نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ،
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ
اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Jamaah Jumat
yang dirahmati Allah,
Puji syukur
kita haturkan kepada Allah SWT, yang dengan kasih sayang-Nya masih meminjamkan
kita napas hingga hari ini. Tak lama lagi, seorang tamu agung akan mengetuk
pintu rumah kita. Ia adalah Ramadhan.
Sebuah
Kisah: Mahalnya Harga Satu Ramadhan
Sebelum kita
melangkah lebih jauh, mari kita renungkan sebuah kisah yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Thalhah bin Ubaidillah RA.
Dahulu, ada
dua orang pria dari kabilah Bali yang datang menghadap Rasulullah SAW dan
memeluk Islam bersama-sama. Pria yang pertama sangat bersemangat dalam jihad,
hingga akhirnya ia gugur sebagai syahid di medan perang. Sedangkan pria kedua
wafat satu tahun kemudian di atas tempat tidurnya secara wajar.
Thalhah bin
Ubaidillah bermimpi melihat keduanya di depan pintu surga. Namun yang
mengejutkan, pria yang wafat belakangan justru dipanggil masuk ke surga
terlebih dahulu sebelum sang syahid. Thalhah pun heran dan bertanya kepada
Rasulullah SAW.
Rasulullah
SAW menjawab dengan tegas namun sejuk:
أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ
رَمَضَانَ وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً صَلاةَ
السَّنَةِ؟
"Bukankah
orang ini masih hidup satu tahun setelahnya? Bukankah ia masih mendapati satu
kali Ramadhan lagi dan berpuasa? Bukankah ia telah sujud sekian ribu rakaat
dalam setahun?" (HR. Ahmad)
Jamaah
sekalian, kisah ini membakar semangat kita: Bahwa satu kali Ramadhan yang
dilakukan dengan benar, mampu mengangkat derajat seseorang melampaui derajat
seorang syahid yang tidak mendapati Ramadhan tersebut. Maka, jangan anggap
remeh kesempatan ini!
1. Bakar
Semangat dengan Ilmu dan Niat
Tegas kita
katakan: Ibadah tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Jangan sampai kita memasuki
Ramadhan hanya berbekal "ikut-ikutan". Pahami kembali fiqih puasa.
Pahami apa yang membatalkan pahala, bukan sekadar yang membatalkan puasa. Dan
perbaharui niat karena Allah, bukan karena tradisi.
Rasulullah
SAW bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا
يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barangsiapa
yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan pahamkan ia dalam urusan
agamanya." (HR. Bukhari & Muslim)
2. Sucikan
Diri, Putuskan Rantai Kemaksiatan
Ramadhan
adalah momentum untuk tegas memutus rantai maksiat. Bagaimana mungkin rahmat
Allah masuk ke hati yang masih digembok oleh kebencian dan dosa yang terus
diulang? Jika selama ini kita terbiasa berdusta, putuskan! Jika tangan ini
masih ringan mengambil yang bukan haknya, hentikan!
Allah SWT
berfirman:
وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا
اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Dan
bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)
3. Lakukan
Pemanasan (Warming Up)
Seorang
atlet tidak akan lari maraton tanpa pemanasan. Maka lakukanlah pemanasan
sekarang. Mulailah mencicil tilawah, mulailah membiasakan bangun malam, agar
ketika Ramadhan tiba, jiwa kita sudah "panas" dan siap melesat
menjemput ridha-Nya.
Jangan
biarkan Ramadhan berlalu begitu saja seolah ia hanya tamu yang lewat. Ingatlah,
bagi pria dalam kisah tadi, satu Ramadhan ekstra telah mengubah timbangan
amalnya secara dahsyat di hadapan Allah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا
كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah yang
dirahmati Allah,
Marilah kita
berdoa dengan hati yang merendah. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk
memutus segala keburukan sebelum fajar Ramadhan menyingsing. Mari kita jemput
Ramadhan dengan kegembiraan ilmu dan ketegasan niat.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ
يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ،
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ.
اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤءِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ
الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar