Mengingat Panggilan Sejati
keluarga besar Kementerian Agama! Mari sejenak kita pejamkan mata. Delapan puluh tahun yang lalu, institusi ini didirikan bukan sekadar untuk mencatat data atau mengurus administrasi. Ia didirikan sebagai penjaga jiwa bangsa.
Kita sering berbicara tentang pembangunan fisik—jalan, gedung, infrastruktur. Namun, 80 tahun Kemenag adalah pembangunan yang jauh lebih vital: Pembangunan Jati Diri, Pembangunan Karakter, Pembangunan Ruh Bangsa.
Agama sebagai Fondasi Kehidupan Bermasyarakat
Di tengah pusaran hiruk pikuk kehidupan modern, ada satu jangkar yang menahan kita dari kehancuran: Agama.
Bagi Saudara-saudaraku Muslim, kita memiliki tugas mulia yang diamanahkan Al-Qur'an: Menjadi Umat Terbaik yang hadir sebagai Rahmatan Lil 'Alamin—rahmat bagi seluruh alam. Rahmat itu bukanlah slogan kosong, melainkan tindakan nyata: adil kepada sesama, damai terhadap lingkungan, dan menyejukkan hati yang berbeda.
Agama sejati bukanlah tembok pemisah, melainkan mata air moral yang mengalirkan kasih sayang, kejujuran, dan keadilan. Ia adalah bahasa universal yang mengajarkan kita untuk melihat orang lain—sekalipun berbeda keyakinan—sebagai saudara dalam kemanusiaan (Ukhuwah Basyariyah).
Yang menusuk hati kita hari ini: Jika kita, para pelayan agama, masih larut dalam ego sektoral dan kekompakan semu, bagaimana mungkin masyarakat kita akan rukun? Kekompakan kita di internal Kemenag adalah laboratorium kerukunan yang sesungguhnya! Kita harus menjadi TELADAN NYATA di setiap desa, di setiap kantor, bahwa perbedaan adalah rahmat Tuhan yang harus dirayakan dalam harmoni, bukan dipertengkarkan dalam fanatisme.
Agama sebagai Pilar Kedaulatan Negara
Kementerian Agama tidak berdiri di luar sistem negara; kita adalah penyempurna kedaulatan. Di usia ke-80 ini, peran kita semakin krusial dalam menahan arus perpecahan dan radikalisme.
Yang menggugah semangat kita: Negara ini tidak akan kokoh hanya dengan kekuatan militer atau ekonomi semata. Ia kokoh karena ditopang oleh nilai-nilai luhur agama—nilai-nilai yang mengajarkan cinta tanah air (hubbul wathan) sebagai bagian dari iman. Kita adalah benteng yang memastikan bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar dijiwai oleh etika suci.
Oleh karena itu, kebersamaan dan kekompakan kita di Kemenag harus diterjemahkan menjadi Pelayanan Prima yang Adil dan Inklusif. Setiap kebijakan kita, setiap sentuhan kita kepada umat, harus mencerminkan bahwa Agama adalah solusi, bukan masalah.
Allahu Akbar
Mari kita tinggalkan perdebatan kecil dan fokus pada Amal Bakti yang besar. Tugas kita kini adalah membuat Agama BERSINAR di seluruh pelosok negeri.
Saya serukan: Tanamkan kembali keimanan yang sejati sebagai fondasi persatuan! Kuatkan barisan ukhuwah kita sebagai duta kerukunan! Dan layani bangsa ini dengan tulus, karena inilah inti dari seluruh ajaran agama, dan wujud nyata kita sebagai Rahmatan Lil 'Alamin.
80 Tahun Kemenag! Mari kita buktikan, dengan Hati Kompak dan Jiwa yang Menggugah, bahwa Agama adalah Nafas Kehidupan Bermasyarakat, dan Pilar Utama Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia!
























