Entri yang Diunggulkan

      ​KHUTBAH PERTAMA ​ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ...

Kamis, 12 Juni 2025

BERPALING DARI PERINGATAN ALLAH

 

ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ÇÊÈ

Surat  Thaha ayat 124-125

ô`tBur uÚtôãr& `t㠓̍ò2ÏŒ ¨bÎ*sù ¼ã&s! Zpt±ŠÏètB %Z3Y|Ê ¼çnãà±øtwUur uQöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 4‘yJôãr& ÇÊËÍÈ

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”

Tafsir Kemenag

Allah menerangkan bahwa orang-orang yang berpaling dari ajaran Al-Qur'an tidak mengindahkannya dan menentang petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya maka sebagai hukumannya dia akan selalu hidup dalam kesempitan dan kesulitan. Dia akan selalu bimbang dan gelisah walaupun dia memiliki kekayaan, pangkat dan kedudukan karena selalu diganggu oleh pikiran dan khayalan yang bukan-bukan mengenai kekayaan dan kedudukannya itu. Dia akan selalu dibayangi oleh momok kehilangan kesenangan yang telah dicapainya, sehingga ia melakukan tindakan-tindakan yang menimbulkan kebencian dan kerugian dalam masyarakatnya. Kemudian di akhirat nanti ia akan dikumpulkan Allah bersama manusia lain dalam keadaan buta mata hatinya. Sebagaimana dia di dunia selalu menolak petunjuk-petunjuk Allah yang terang benderang dan memicingkan matanya agar petunjuk itu jangan terlihat olehnya sehingga ia berlarut-larut dalam kesesatan, demikian pula di akhirat ia tidak dapat melihat suatu alasan pun untuk membela dirinya dari ketetapan Allah Yang Mahaadil. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa orang yang berpaling dari ajaran Allah itu memang menjadi buta panca indera tidak melihat suatu apapun sebagai tambahan siksaan atasnya. Seseorang yang buta di kala terjadi huru-hara dan melapetaka akan lebih kalang-kabut pikirannya karena tidak tahu apa yang akan dibuat dan tidak tentu arah yang akan dituju untuk menyelamatkan dirinya karena tidak melihat dari mana datangnya bahaya yang mengancam. Tetapi sesudah itu matanya akan menjadi terang kembali karena melihat sendiri buku catatan amalnya dan bagaimana hebat dan dahsyatnya siksaan neraka sebagaimana tersebut dalam ayat: Dan orang yang berdosa melihat neraka, lalu mereka menduga, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya. (al-Kahf/18: 53)

#uäu‘ur tbqãB̍ôfãKø9$# u‘$¨Z9$# (#þq‘Zsàsù Nåk¨Xr& $ydqãèÏ%#uq•B öNs9ur (#r߉Ågs† $pk÷]tã $]ùÎŽóÇtB ÇÎÌÈ  

53. dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, Maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya.

 

 

  tA$s% Éb>u‘ zOÏ9 ûÓÍ_s?÷Ž|³ym 4‘yJôãr& ô‰s%ur àMZä. #ZŽÅÁt/ ÇÊËÎÈ  

Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”

Tafsir Kemenag

Orang-orang yang kafir itu akan bertanya kepada Allah mengapa Engkau jadikan aku buta sedang mataku dahulu terang dapat melihat. Allah menjawab, bahwa hal itu memang demikian! Karena di dunia ketika datang kepadanya rasul-rasul membawa petunjuk-petunjuk-Nya dia berpaling darinya seakan-akan matanya telah buta dan seakan-akan ia telah melupakannya karena tidak mengindahkan dan memperhatikannya. Oleh sebab itu Allah jadikan mata hatinya buta pada hari Kiamat sehingga engkau tidak dapat mengemukakan suatu alasan untuk membela dirimu dari azab yang telah disediakan baginya sebagai balasan atas kebutaan mereka selama di dunia.

 

Selasa, 10 Juni 2025

Keutamaan Menyalati Jenazah


Amalan

Kumpulan Amalan  Menghadiri Prosesi Jenazah

Salah satu amalan ringan berpahala besar adalah menghadiri prosesi jenazah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ  . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ  مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menghadiri prosesi jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menghadiri prosesi jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari, no. 1325 dan Muslim, no. 945)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ.

“Barangsiapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim, no. 945)

Dari Kuraib, ia berkata,

أَنَّهُ مَاتَ ابْنٌ لَهُ بِقُدَيْدٍ أَوْ بِعُسْفَانَ فَقَالَ يَا كُرَيْبُ انْظُرْ مَا اجْتَمَعَ لَهُ مِنَ النَّاسِ. قَالَ فَخَرَجْتُ فَإِذَا نَاسٌ قَدِ اجْتَمَعُوا لَهُ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ تَقُولُ هُمْ أَرْبَعُونَ قَالَ نَعَمْ. قَالَ أَخْرِجُوهُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ»

“Anak ‘Abdullah bin ‘Abbas di Qudaid atau di ‘Usfan meninggal dunia. Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Wahai Kuraib (bekas budak Ibnu ‘Abbas), lihat berapa banyak manusia yang menyolatkan jenazahnya.” Kuraib berkata, “Aku keluar, ternyata orang-orang sudah berkumpul dan aku mengabarkan pada mereka pertanyaan Ibnu ‘Abbas tadi. Lantas mereka menjawab, “Ada 40 orang”. Kuraib berkata, “Baik kalau begitu.” Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Keluarkan mayit tersebut. Karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (doa) mereka untuknya.” (HR. Muslim, no. 948)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّى عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلاَّ شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafa’at (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafa’at (doa mereka) akan diperkenankan.” (HR. Muslim no. 947)

Dari Malik bin Hubairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيُصَلِّى عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ أَوْجَبَ

“Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan doa mereka akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi no. 1028 dan Abu Daud no. 3166. Imam Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’, 5:212 bahwa hadits ini hasan. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan .

Senin, 09 Juni 2025

Arah pendampingan pada Madrasah




Pendampingan madrasah adalah proses krusial untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia. Arah pendampingan ini perlu fokus pada beberapa aspek kunci agar madrasah dapat bersaing dan menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi.

1. Peningkatan Kualitas Pembelajaran dan Kurikulum

Pendampingan harus berorientasi pada peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Ini meliputi:

 * Pengembangan profesional guru: Pelatihan berkelanjutan tentang metodologi pengajaran inovatif, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, dan pengembangan bahan ajar yang relevan.

 * Implementasi kurikulum yang efektif: Memastikan kurikulum dipahami dan diterapkan secara optimal, termasuk pengintegrasian nilai-nilai keislaman dan keterampilan abad ke-21.

 * Asesmen dan evaluasi pembelajaran: Membantu madrasah mengembangkan sistem asesmen yang komprehensif untuk mengukur capaian belajar siswa dan menjadi dasar perbaikan.

2. Penguatan Tata Kelola Madrasah

Aspek tata kelola yang baik sangat penting untuk keberlanjutan dan efisiensi madrasah. Arah pendampingan di sini mencakup:

 * Manajemen keuangan yang transparan dan akuntabel: Membantu madrasah dalam perencanaan anggaran, pelaporan keuangan, dan pengelolaan dana secara efektif.

 * Pengembangan kebijakan dan prosedur operasional standar (SOP): Memastikan adanya kerangka kerja yang jelas untuk semua kegiatan madrasah, mulai dari penerimaan siswa hingga pengelolaan aset.

 * Peningkatan peran komite madrasah dan partisipasi masyarakat: Mendorong keterlibatan aktif stakeholder dalam pengambilan keputusan dan pengembangan madrasah.

3. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Di era digital, TIK menjadi alat yang tak terpisahkan dalam pendidikan. Pendampingan harus mendorong:

 * Infrastruktur TIK yang memadai: Membantu madrasah dalam pengadaan dan pemeliharaan perangkat TIK.

 * Integrasi TIK dalam pembelajaran: Melatih guru dan siswa untuk memanfaatkan platform e-learning, sumber belajar digital, dan aplikasi pendidikan.

 * Sistem informasi manajemen madrasah: Membangun sistem yang terintegrasi untuk data siswa, nilai, kehadiran, dan administrasi lainnya.

4. Pengembangan Karakter dan Akhlak Mulia

Madrasah memiliki peran unik dalam membentuk karakter dan akhlak siswa. Arah pendampingan harus menekankan:

 * Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam: Mengintegrasikan pendidikan akhlak dalam setiap mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler.

 * Pembiasaan perilaku positif: Mendorong budaya madrasah yang mencerminkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, kerja sama, dan toleransi.

 * Peran teladan guru dan civitas akademika: Memastikan seluruh warga madrasah menjadi contoh yang baik bagi siswa.

5. Peningkatan Sarana dan Prasarana

Lingkungan belajar yang kondusif sangat mempengaruhi proses pembelajaran. Pendampingan perlu membantu madrasah dalam:

 * Perencanaan dan pengembangan fasilitas: Memastikan ketersediaan ruang kelas yang layak, perpustakaan, laboratorium, dan fasilitas olahraga.

 * Pemeliharaan rutin sarana dan prasarana: Mendorong madrasah untuk memiliki program pemeliharaan yang terencana.

 * Pengelolaan lingkungan yang bersih dan nyaman: Menciptakan suasana belajar yang sehat dan mendukung.

Dengan fokus pada arah-arah pendampingan ini, diharapkan madrasah dapat terus meningkatkan kualitasnya, menghasilkan generasi penerus yang bertaqwa,  berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global. Coba lihat brapa banyak warga madrasah yang tidak salat tepat waktu dan tidak berjamaah? Lalu apa yang mau diandalkan? Apa nya yang didampingi????





Kamis, 05 Juni 2025

Khutbah jumat



Saudaraku kaum muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah.

Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam, serta kesempatan untuk kembali berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka menunaikan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu shalat Jumat. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kita saat ini berada di bulan Dzulhijjah, bulan yang memiliki banyak keutamaan dan keberkahan. Bulan ini adalah salah satu dari empat bulan haram (mulia), di mana amalan kebaikan dilipatgandakan pahalanya, dan sebaliknya, dosa juga lebih besar akibatnya.

Di bulan Dzulhijjah ini, terdapat beberapa ibadah agung yang Allah syariatkan, di antaranya:

 * Ibadah Haji: Bagi yang mampu, menunaikan ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang sangat mulia. Haji adalah puncak dari perjalanan spiritual seorang muslim, di mana ia meninggalkan segala kesenangan duniawi dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

 * Hari Arafah: Tanggal 9 Dzulhijjah adalah Hari Arafah, hari di mana para jamaah haji wukuf di Padang Arafah. Bagi kita yang tidak berhaji, dianjurkan untuk berpuasa pada hari ini. Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Rasulullah SAW bersabda: “Puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun, setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Dan puasa hari ‘Asyura itu menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

 * Hari Raya Idul Adha dan Hari Tasyrik: Tanggal 10 Dzulhijjah adalah Hari Raya Idul Adha, hari raya kurban. Pada hari ini, kita disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama fakir miskin. Setelah Idul Adha, terdapat Hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), di mana kita masih disunnahkan untuk makan dan minum, serta dilarang berpuasa.

Saudaraku sekalian,

Keutamaan bulan Dzulhijjah ini hendaknya kita manfaatkan sebaik-baiknya. Mari kita tingkatkan ibadah kita, perbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan melakukan amal shaleh lainnya. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Ingatlah firman Allah SWT dalam Surah Al-Fajr ayat 2:

وَٱلۡفَجۡرِ

وَلَيَالٍ عَشۡرٍ

Yang artinya: "Demi fajar, dan malam yang sepuluh."

Sebagian mufassir menafsirkan "malam yang sepuluh" ini adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini menunjukkan betapa istimewanya hari-hari tersebut di sisi Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan dan taufik untuk dapat mengisi sisa-sisa hari di bulan Dzulhijjah ini dengan amalan-amalan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya. Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita, mengampuni segala dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang muttaqin. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Rabu, 04 Juni 2025

Nilai-Nilai Yang terkasndung Dalam Berqurban

 

BAHAGIA BERSAMA DENGAN BERQURBAN

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ،

لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ ِباللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

 

Ma'asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah,

Takbir, tahmid, dan tahlil senantiasa kita kumandangkan di hari yang mulia ini. Hari Idul Adha, hari raya qurban, hari raya qurban, adalah hari kemenangan bagi kita semua, setelah menjalani hari-hari di bulan Dzulhijjah dengan penuh ibadah, dzikir, dan taqarrub ilallah.

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kita sekalian, sehingga pada pagi yang cerah ini kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka melaksanakan shalat Idul Adha berjamaah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin wal Hadirat yang dimuliakan Allah,

Idul Adha adalah momen yang sangat istimewa. Ia bukan sekadar perayaan tahunan, namun sarat akan makna dan hikmah yang mendalam. Idul Adha mengingatkan kita pada kisah monumental Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan putranya Nabi Ismail AS. Sebuah kisah tentang ketaatan yang mutlak, keikhlasan yang tanpa batas, dan pengorbanan yang tiada tara.

Nabi Ibrahim, kekasih Allah, diuji dengan perintah yang sangat berat, yaitu mengorbankan putranya Ismail, buah hati yang telah lama dinanti. Namun, dengan keimanan yang teguh, tanpa keraguan sedikit pun, Nabi Ibrahim bersedia melaksanakan perintah tersebut. Nabi Ismail pun, sebagai seorang anak yang shalih, dengan lapang dada menerima keputusan ayahnya, semata-mata karena ketaatan kepada Allah. Dan Siti Hajar, sebagai seorang ibu, menunjukkan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam menghadapi ujian ini.

للهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد    

Hadirin rahimakumullâh
Dalam penantian yang sangat lama hingga mencapai puncak usia 86 tahun, Nabi Ibrâhîm baru dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Ismâ'îl. Setelah belahan jiwanya itu tumbuh  menjadi seorang remaja, Allâh memerintahkan kepada Baginda Nabi Ibrâhîm agar menyembelih putra yang sangat dicintai dan dinanti-nanti itu.

Apa sikap Nabi Ibrâhîm dan Nabi Ismâ'îl menerima perintah itu?

Dengan ketundukan yang total kepada Allâh, Nabi Ibrâhîm bersegera menjalankan perintah itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Sang putra juga menyambut perintah itu dengan kepasrahan yang total tanpa ada protes sepatah katapun. Subhâna Allâh! Sebuah potret keluarga shalih yang lebih mengutamakan perintah Allâh dibandingkan dengan apa pun selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan menyemangati untuk melaksanakan perintah Allâh.

Dialog indah antara keduanya terekam dalam al-Qur'an sebagaimana diceritakan oleh Allâh :

قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ   فَٱنظُرۡ مَاذَاتَرَى

Artinya, "..... Ibrâhîm berkata: 'Duhai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?'" (QS As-Shâffât: 102).

Lalu dengan kemantapan dan keteguhan hati, Nabi Ismâ'îl AS menjawab dengan jawaban yang menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allâh jauh melebihi kecintaannya kepada jiwa dan dirinya sendiri:

قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ

ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ                                 
Artinya, "Ismâ'îl menjawab: 'Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyâa Allâh engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." (QS As-Shâffât: 102)

Jawaban Ismâ'îl yang disertai "Insyâa Allâh" menunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allâh. Apa pun yang dikehendaki Allâh pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allâh pasti tidak akan terjadi.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                              

Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh

Akhirnya Nabi Ibrahim a.s memulai menjalankan perintah Allah tersebut. Dibawalah Nabi Ismai’l a.s menjauh dari rumahnya agar tidak terdengar kisah penyembelihan ini kepada ibunda nabi Ismail a.s.

Setelah sampai disebuah tempat yang dirasa aman, jauh dari jangkauan ibunda Nabi Ismai’l a.s, Nabi Ibrahim membaringkan putra tercintanya untuk disembelih. Dan putra tercinta Nabi Ismai’l a.s berkata :

“Wahai ayah, jauhkan bajumu dariku agar tidak terkena darahku, karena aku tidak ingin ibunda melihat darah tersebut. Dan wahai ayah, percepatlah dalam menyembelih agar semakin ringan kematianku. Dan wahai ayah, setelah ayah kembali jangan lupa haturkan salam penghormatanku kepada ibundaku”

Seketika itu juga Nabi Ibrahim memeluk putra tercinta dan  menciumnya dengan penuh kasih sayang sembari menangis terharu dan mengatakan kepada Ismâ'îl:

نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ   

         Artinya, "Engkaulah sebaik-baik penolong bagiku untuk menjalankan perintah Allâh, duhai putraku."

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                   

Kisah ini mengajarkan kita tentang hakikat keimanan sejati. Bahwa keimanan bukan hanya sebatas ucapan, melainkan keyakinan yang tertanam kuat di hati, yang termanifestasi dalam tindakan dan pengorbanan. Allah SWT tidak menghendaki darah atau daging dari hewan qurban kita, melainkan ketakwaan dan keikhlasan yang ada di balik pengorbanan tersebut. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                   

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ibadah qurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Dengan menyembelih hewan qurban dan mendistribusikan dagingnya kepada yang membutuhkan, kita turut serta dalam mengikis kesenjangan sosial, menumbuhkan rasa persaudaraan, dan menguatkan ukhuwah Islamiyah. Daging qurban yang kita bagikan adalah simbol kepedulian kita terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung. Ini adalah wujud nyata dari nilai-nilai kebersamaan dan tolong-menolong yang diajarkan dalam Islam.

Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk merefleksikan diri, sejauh mana ketaatan kita kepada Allah, seberapa besar keikhlasan kita dalam beribadah, dan seberapa kuat kepedulian kita terhadap sesama. Semoga setiap tetes darah hewan qurban yang kita sembelih, setiap potongan daging yang kita bagikan, menjadi saksi di hadapan Allah akan keimanan dan ketakwaan kita.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                   

Idul Adha merupakan ibadah sembelihan hewan kurban yang kita laksanakan sebagai bentuk wujud rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita, yang diawali dengan salat dua rakaat yang telah kita kerjakan barusan ini.

Allah SWT berfirman :

فَـصَـلِّ لـِرَّبِّـكَ وَانْـحَـرْ

Maka dirikanlah salat dan berkurbanlah.(QS.Al-kautsar:2).

 Nabi SAW memberikan peringatan keras   bagi orang yang tidak mau berkurban padahal  mereka mampu, Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban namun dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim)

Oleh karena itu khatib mengajak kita semua kalau pada saat ini kita belum mampu untuk berkurban, maka setelah ini kita mulai meniatkan dan membulatkan tekat kita untuk melaksanakan kurban di tahun besok. Kita harus menargetkan dan memaksakan diri kita tahun depan saya harus berkurban.

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Hewan itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan darah itu di sisi Allah SWT segera menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah. (HR. Tirmizy 1493 dan Ibnu Majah 3126).

، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                  

Nabi memberikan peringatan keras bagi orang yang mampu berkurban lalu tidak berkurban, lalu bagaimana orang yang meninggalkan salat, ada yang salat 2 kali setahun pada hari raya saja, ada yang salat hari jumat saja, ada yang salat jika lagi ada masalah baru mereka salat, bahkan ada nanti mati baru di salati.

للهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                    

Lalu bagaimana Ancaman orang yang meninggalkan salat

Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar, bahkan lebih besar daripada membunuh, merampas harta, berzina, mencuri, dan minum minuman keras.

  * Dalam QS. Al-Muddatstsir ayat 42-43, penghuni neraka ditanya: "Apakah yang memasukkan  kamu ke dalam neraka Saqar? Mereka menjawab: 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat'."

مَا سَلَـكَكُمۡ فِىۡ سَقَرَ‏ ٤٢ قَالُوۡا لَمۡ نَكُ مِنَ الۡمُصَلِّيۡنَۙ‏    ٤٣

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Perjanjian yang ada antara kami dengan mereka adalah shalat. Maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kafir." (HR. Tirmidzi, dll; Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani).

  * Shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya yang lain. Rasulullah SAW bersabda: "Hal pertama kali yang dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia telah beruntung dan selamat. Dan jika shalatnya rusak, dia telah gagal dan merugi." (HR. Tirmidzi dan An-Nasa'i).

 للهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد

                                                
Selain daripada itu, ibadah kurban termasuk merupakan ibadah yang utama. Sisi keutamaannya pada kita adalah dengan bersandingnya dua perintah yaitu salat dan berkurban sekaligus dalam surat al-Kautsar ayat 2.

Salat mengajarkan hubungan baik dengan Allah(hablun minallah) sementara kurban mengajarkan kepekaan sosial dan hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minannas). Keduanay saling melengkapi untuk mencapai kesalehan individual dan sosial.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                   

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menafsirkan ayat ini menguraikan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih kurban. Hal ini menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah SWT, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah SWT, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.

Oleh sebab itulah, dalam surat lain Allah SWT menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,” (QS. Al-An’am : 162)

    للهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                              

Sebelum mengakhiri khutbah ini, marilah sejenak kita menyimak panduan singkat menunaikan ibadah kurban kita hari ini hingga 3 hari ke depan.

Hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.

Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi bisa diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah.

Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya. Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Pahala yang kita peroleh sangat bergantung pada keikhlasan niat kita dalam menunaikan ibadah kurban ini.

Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahil hamd…

Di penghujung khutbah ini, marilah sejenak kita menundukkan jiwa dan hati untuk menyampaikan doa-doa kita kepada Sang Maha mendengar, Allah Azza wa Jalla. Semoga doa-doa itu terhantarkan ke sisi Allah Ta’ala bersama dengan ibadah kurban yang kita tunaikan hari ini.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،

رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم

Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang menciptakan kami, Engkaulah satu-satuNya yang berhak untuk kami sembah…Hari ini kami datang mengetuk pintu ampunanMu. Hari ini kami hadir bersimpuh dengan peluh-peluh dosa yang melekat di tubuh kami yang lemah ini. Ya Allah, betapa kami sering lupa bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat, hingga kami pun jatuh dan jatuh lagi dalam kedurhakaan terhadap perintahMu. Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah kami, ampunilah kami. Ya Allah, jika Engkau menutup pintu ampunanMu yang agung, kepada siapa lagi kami harus mencari ampunan…

Ya Allah, ya Rabbana, di sisa-sisa hidup kami ini, berikanlah kekuatan kepada kami untuk selalu berbakti dan menjadi anak yang shaleh untuk ayah-bunda kami. izinkanlah kami untuk berkhidmat dan melayani mereka dengan sebaik-baiknya di sisa-sisa usia mereka… maka izinkanlah kami untuk menjadi menjadi ladang kebaikan penerang alam kubur mereka ketika mereka sudah meninggal dunia… Ya Allah, ampuni, ampuni, ampuni durhaka kami kepada ayah-bunda kami…

Ya Allah, ya Rabbana, berikan kami kekuatan dan kemampuan untuk menjadi orangtua yang terbaik untuk putra-putri kami… Hanya Engkau satu-satuNya yang dapat memberikan kekuatan untuk mendidik mereka dengan sebaik-baiknya… Ya Allah, jadikan anak-anak kami sebagai penyejuk hati kami, yang selalu mendoakan kami saat kami sendiri dalam kegelapan alam kubur… Ya Allah, karuniakan kepada kami anak-anak yang mencintai al-Qur’an dan Sunnah NabiMu.

Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami, kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.

رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن                        

                                     

                                       Khutbah Idul Adha 1447 H

                                       Oleh: Drs. KH. Abdul Waris, MM.

                                      Tempat: Lapangan Patang loe Kec. Biring Bulu

                                       Tanggal: 10 Dzulhijjah 1446 H / 6 Juni 2025