Entri yang Diunggulkan

KUDEKAP SEKUAT MUNGKIN HAB ke-80 Kemenag RI)

  ​Mengingat Panggilan Sejati  keluarga besar Kementerian Agama! Mari sejenak kita pejamkan mata. Delapan puluh tahun yang lalu, institusi...

Rabu, 04 Juni 2025

Nilai-Nilai Yang terkasndung Dalam Berqurban

 

BAHAGIA BERSAMA DENGAN BERQURBAN

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ،

لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ ِباللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

.اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

 

Ma'asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah,

Takbir, tahmid, dan tahlil senantiasa kita kumandangkan di hari yang mulia ini. Hari Idul Adha, hari raya qurban, hari raya qurban, adalah hari kemenangan bagi kita semua, setelah menjalani hari-hari di bulan Dzulhijjah dengan penuh ibadah, dzikir, dan taqarrub ilallah.

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kita sekalian, sehingga pada pagi yang cerah ini kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka melaksanakan shalat Idul Adha berjamaah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin wal Hadirat yang dimuliakan Allah,

Idul Adha adalah momen yang sangat istimewa. Ia bukan sekadar perayaan tahunan, namun sarat akan makna dan hikmah yang mendalam. Idul Adha mengingatkan kita pada kisah monumental Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan putranya Nabi Ismail AS. Sebuah kisah tentang ketaatan yang mutlak, keikhlasan yang tanpa batas, dan pengorbanan yang tiada tara.

Nabi Ibrahim, kekasih Allah, diuji dengan perintah yang sangat berat, yaitu mengorbankan putranya Ismail, buah hati yang telah lama dinanti. Namun, dengan keimanan yang teguh, tanpa keraguan sedikit pun, Nabi Ibrahim bersedia melaksanakan perintah tersebut. Nabi Ismail pun, sebagai seorang anak yang shalih, dengan lapang dada menerima keputusan ayahnya, semata-mata karena ketaatan kepada Allah. Dan Siti Hajar, sebagai seorang ibu, menunjukkan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam menghadapi ujian ini.

للهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد    

Hadirin rahimakumullâh
Dalam penantian yang sangat lama hingga mencapai puncak usia 86 tahun, Nabi Ibrâhîm baru dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Ismâ'îl. Setelah belahan jiwanya itu tumbuh  menjadi seorang remaja, Allâh memerintahkan kepada Baginda Nabi Ibrâhîm agar menyembelih putra yang sangat dicintai dan dinanti-nanti itu.

Apa sikap Nabi Ibrâhîm dan Nabi Ismâ'îl menerima perintah itu?

Dengan ketundukan yang total kepada Allâh, Nabi Ibrâhîm bersegera menjalankan perintah itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Sang putra juga menyambut perintah itu dengan kepasrahan yang total tanpa ada protes sepatah katapun. Subhâna Allâh! Sebuah potret keluarga shalih yang lebih mengutamakan perintah Allâh dibandingkan dengan apa pun selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan menyemangati untuk melaksanakan perintah Allâh.

Dialog indah antara keduanya terekam dalam al-Qur'an sebagaimana diceritakan oleh Allâh :

قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ   فَٱنظُرۡ مَاذَاتَرَى

Artinya, "..... Ibrâhîm berkata: 'Duhai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?'" (QS As-Shâffât: 102).

Lalu dengan kemantapan dan keteguhan hati, Nabi Ismâ'îl AS menjawab dengan jawaban yang menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allâh jauh melebihi kecintaannya kepada jiwa dan dirinya sendiri:

قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ

ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ                                 
Artinya, "Ismâ'îl menjawab: 'Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyâa Allâh engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." (QS As-Shâffât: 102)

Jawaban Ismâ'îl yang disertai "Insyâa Allâh" menunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allâh. Apa pun yang dikehendaki Allâh pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allâh pasti tidak akan terjadi.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                              

Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh

Akhirnya Nabi Ibrahim a.s memulai menjalankan perintah Allah tersebut. Dibawalah Nabi Ismai’l a.s menjauh dari rumahnya agar tidak terdengar kisah penyembelihan ini kepada ibunda nabi Ismail a.s.

Setelah sampai disebuah tempat yang dirasa aman, jauh dari jangkauan ibunda Nabi Ismai’l a.s, Nabi Ibrahim membaringkan putra tercintanya untuk disembelih. Dan putra tercinta Nabi Ismai’l a.s berkata :

“Wahai ayah, jauhkan bajumu dariku agar tidak terkena darahku, karena aku tidak ingin ibunda melihat darah tersebut. Dan wahai ayah, percepatlah dalam menyembelih agar semakin ringan kematianku. Dan wahai ayah, setelah ayah kembali jangan lupa haturkan salam penghormatanku kepada ibundaku

Seketika itu juga Nabi Ibrahim memeluk putra tercinta dan  menciumnya dengan penuh kasih sayang sembari menangis terharu dan mengatakan kepada Ismâ'îl:

نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ   

         Artinya, "Engkaulah sebaik-baik penolong bagiku untuk menjalankan perintah Allâh, duhai putraku."

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                   

Kisah ini mengajarkan kita tentang hakikat keimanan sejati. Bahwa keimanan bukan hanya sebatas ucapan, melainkan keyakinan yang tertanam kuat di hati, yang termanifestasi dalam tindakan dan pengorbanan. Allah SWT tidak menghendaki darah atau daging dari hewan qurban kita, melainkan ketakwaan dan keikhlasan yang ada di balik pengorbanan tersebut. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                   

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ibadah qurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Dengan menyembelih hewan qurban dan mendistribusikan dagingnya kepada yang membutuhkan, kita turut serta dalam mengikis kesenjangan sosial, menumbuhkan rasa persaudaraan, dan menguatkan ukhuwah Islamiyah. Daging qurban yang kita bagikan adalah simbol kepedulian kita terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung. Ini adalah wujud nyata dari nilai-nilai kebersamaan dan tolong-menolong yang diajarkan dalam Islam.

Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk merefleksikan diri, sejauh mana ketaatan kita kepada Allah, seberapa besar keikhlasan kita dalam beribadah, dan seberapa kuat kepedulian kita terhadap sesama. Semoga setiap tetes darah hewan qurban yang kita sembelih, setiap potongan daging yang kita bagikan, menjadi saksi di hadapan Allah akan keimanan dan ketakwaan kita.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                   

Idul Adha merupakan ibadah sembelihan hewan kurban yang kita laksanakan sebagai bentuk wujud rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita, yang diawali dengan salat dua rakaat yang telah kita kerjakan barusan ini.

Allah SWT berfirman :

فَـصَـلِّ لـِرَّبِّـكَ وَانْـحَـرْ

Maka dirikanlah salat dan berkurbanlah.(QS.Al-kautsar:2).

 Nabi SAW memberikan peringatan keras   bagi orang yang tidak mau berkurban padahal  mereka mampu, Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban namun dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim)

Oleh karena itu khatib mengajak kita semua kalau pada saat ini kita belum mampu untuk berkurban, maka setelah ini kita mulai meniatkan dan membulatkan tekat kita untuk melaksanakan kurban di tahun besok. Kita harus menargetkan dan memaksakan diri kita tahun depan saya harus berkurban.

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Hewan itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan darah itu di sisi Allah SWT segera menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah. (HR. Tirmizy 1493 dan Ibnu Majah 3126).

، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                  

Nabi memberikan peringatan keras bagi orang yang mampu berkurban lalu tidak berkurban, lalu bagaimana orang yang meninggalkan salat, ada yang salat 2 kali setahun pada hari raya saja, ada yang salat hari jumat saja, ada yang salat jika lagi ada masalah baru mereka salat, bahkan ada nanti mati baru di salati.

للهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                    

Lalu bagaimana Ancaman orang yang meninggalkan salat

Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar, bahkan lebih besar daripada membunuh, merampas harta, berzina, mencuri, dan minum minuman keras.

  * Dalam QS. Al-Muddatstsir ayat 42-43, penghuni neraka ditanya: "Apakah yang memasukkan  kamu ke dalam neraka Saqar? Mereka menjawab: 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat'."

مَا سَلَـكَكُمۡ فِىۡ سَقَرَ‏ ٤٢ قَالُوۡا لَمۡ نَكُ مِنَ الۡمُصَلِّيۡنَۙ‏    ٤٣

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Perjanjian yang ada antara kami dengan mereka adalah shalat. Maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kafir." (HR. Tirmidzi, dll; Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani).

  * Shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya yang lain. Rasulullah SAW bersabda: "Hal pertama kali yang dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia telah beruntung dan selamat. Dan jika shalatnya rusak, dia telah gagal dan merugi." (HR. Tirmidzi dan An-Nasa'i).

 للهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد

                                                
Selain daripada itu, ibadah kurban termasuk merupakan ibadah yang utama. Sisi keutamaannya pada kita adalah dengan bersandingnya dua perintah yaitu salat dan berkurban sekaligus dalam surat al-Kautsar ayat 2.

Salat mengajarkan hubungan baik dengan Allah(hablun minallah) sementara kurban mengajarkan kepekaan sosial dan hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minannas). Keduanay saling melengkapi untuk mencapai kesalehan individual dan sosial.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                                   

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menafsirkan ayat ini menguraikan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih kurban. Hal ini menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah SWT, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah SWT, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.

Oleh sebab itulah, dalam surat lain Allah SWT menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,” (QS. Al-An’am : 162)

    للهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْد                                              

Sebelum mengakhiri khutbah ini, marilah sejenak kita menyimak panduan singkat menunaikan ibadah kurban kita hari ini hingga 3 hari ke depan.

Hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.

Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi bisa diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah.

Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya. Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Pahala yang kita peroleh sangat bergantung pada keikhlasan niat kita dalam menunaikan ibadah kurban ini.

Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahil hamd…

Di penghujung khutbah ini, marilah sejenak kita menundukkan jiwa dan hati untuk menyampaikan doa-doa kita kepada Sang Maha mendengar, Allah Azza wa Jalla. Semoga doa-doa itu terhantarkan ke sisi Allah Ta’ala bersama dengan ibadah kurban yang kita tunaikan hari ini.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،

رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم

Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang menciptakan kami, Engkaulah satu-satuNya yang berhak untuk kami sembah…Hari ini kami datang mengetuk pintu ampunanMu. Hari ini kami hadir bersimpuh dengan peluh-peluh dosa yang melekat di tubuh kami yang lemah ini. Ya Allah, betapa kami sering lupa bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat, hingga kami pun jatuh dan jatuh lagi dalam kedurhakaan terhadap perintahMu. Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah kami, ampunilah kami. Ya Allah, jika Engkau menutup pintu ampunanMu yang agung, kepada siapa lagi kami harus mencari ampunan…

Ya Allah, ya Rabbana, di sisa-sisa hidup kami ini, berikanlah kekuatan kepada kami untuk selalu berbakti dan menjadi anak yang shaleh untuk ayah-bunda kami. izinkanlah kami untuk berkhidmat dan melayani mereka dengan sebaik-baiknya di sisa-sisa usia mereka… maka izinkanlah kami untuk menjadi menjadi ladang kebaikan penerang alam kubur mereka ketika mereka sudah meninggal dunia… Ya Allah, ampuni, ampuni, ampuni durhaka kami kepada ayah-bunda kami…

Ya Allah, ya Rabbana, berikan kami kekuatan dan kemampuan untuk menjadi orangtua yang terbaik untuk putra-putri kami… Hanya Engkau satu-satuNya yang dapat memberikan kekuatan untuk mendidik mereka dengan sebaik-baiknya… Ya Allah, jadikan anak-anak kami sebagai penyejuk hati kami, yang selalu mendoakan kami saat kami sendiri dalam kegelapan alam kubur… Ya Allah, karuniakan kepada kami anak-anak yang mencintai al-Qur’an dan Sunnah NabiMu.

Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami, kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.

رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن                        

                                     

                                       Khutbah Idul Adha 1447 H

                                       Oleh: Drs. KH. Abdul Waris, MM.

                                      Tempat: Lapangan Patang loe Kec. Biring Bulu

                                       Tanggal: 10 Dzulhijjah 1446 H / 6 Juni 2025

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar