📝 Penerapan Kurikulum Cinta
1. Konsep Dasar
Kurikulum Cinta adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada nilai kasih sayang, empati, penghargaan, dan kepedulian, baik kepada Allah, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan. Tujuannya bukan hanya mencetak peserta didik yang cerdas intelektual, tetapi juga memiliki hati yang lembut, berkarakter, dan siap menebarkan kebaikan.
2. Landasan Filosofis
Al-Qur’an & Hadis: Islam mengajarkan bahwa cinta adalah dasar ibadah (QS. Ali Imran: 31, hadis tentang rahmah).
Psikologi Pendidikan: Anak lebih mudah berkembang dalam suasana penuh kasih sayang.
Kurikulum Merdeka: Sejalan dengan pembelajaran berbasis karakter, sosial-emosional, dan Profil Pelajar Pancasila.
3. Ruang Lingkup Penerapan
Cinta kepada Allah & Rasul → melalui ibadah, tadabbur Al-Qur’an, kisah teladan Nabi.
Cinta kepada diri sendiri → menumbuhkan rasa syukur, menjaga kesehatan, mengenali potensi diri.
Cinta kepada sesama → saling tolong-menolong, toleransi, persaudaraan.
Cinta kepada lingkungan → menjaga kebersihan, ekoteologi, peduli pada alam.
4. Strategi Penerapan di Madrasah
Integrasi dalam Pembelajaran
Guru mengaitkan materi pelajaran dengan nilai cinta, misalnya dalam matematika mengajarkan kejujuran, dalam IPA mengaitkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.
Budaya Sekolah
Membangun kebiasaan salam, senyum, sapa.
Membiasakan doa bersama, gotong royong, program "Jumat Berbagi".
Metode Pembelajaran
Project Based Learning (PjBL) dengan tema sosial-kemanusiaan.
Collaborative learning untuk menumbuhkan empati.
Refleksi di akhir pelajaran agar siswa menyadari nilai-nilai cinta.
Kegiatan Ekstrakurikuler
Program bakti sosial, peduli lingkungan, pesantren kilat, mentoring akhlak.
5. Evaluasi Penerapan
Aspek kognitif: pemahaman siswa tentang nilai cinta.
Aspek afektif: sikap dan perilaku siswa sehari-hari.
Aspek psikomotorik: keterlibatan siswa dalam aksi nyata (misalnya menjaga kebersihan kelas, membantu teman yang kesulitan).
6. Tantangan & Solusi
Tantangan: masih ada budaya kekerasan, kurangnya teladan guru, fokus hanya pada nilai akademik.
Solusi: guru menjadi role model cinta, sekolah membuat kebijakan berbasis kasih sayang, orang tua dilibatkan dalam mendukung nilai cinta di rumah.
7. Output yang Diharapkan
Peserta didik yang berilmu dan berakhlak mulia.
Madrasah/sekolah menjadi lingkungan ramah anak dan penuh cinta.
Terwujudnya generasi rahmatan lil ‘alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar